16
April
Muamalah Secara Artian Umum image

Muamalah Secara Artian Umum

Secara “default” manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mungkin bisa memenuhi kebutuhan pribadinya kecuali dengan melibatkan orang lain. Dan setiap manusia akan sangat bergantung kepada manusia lainnya, tentu dengan kadar jauh di bawah ketergantungan mereka terhadap Rabb/Tuhan mereka. Karenanya, interaksi sesama adalah sebuah keniscayaan yang sulit terbantahkan.

Besarnya intensitas interaksi sesama manusia ini pastinya membutuhkan rule/aturan agar tidak ada pihak yang dirugikan/dizhalimi saat manusia bersosialisasi. Setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang harus diperhatikan dan dipenuhi. Inilah inti dari istilah fikih muamalah yang telah dirumuskan oleh Islam. Maka siapapun yang tidak memperhatikan fikih muamalah maka ia akan sangat mudah terjebak pada perbuatan zhalim kepada sesama.

Wallaahul Musta’aan

M. Ibrahim Saleh

17
April
Kapan Sebaiknya Anak Diajarkan Perihal Muamalah? image

Kapan Sebaiknya Anak Diajarkan Perihal Muamalah?

Buah hati kita harus mendapatkan Pendidikan muamalah sedini mungkin karena ini menyangkut dengan berinteraksi dengan orang lain secara global dan si anak tidak mungkin tidak melakukan hal itu. Pelajaran muamalah yang dimaksud seperti bagaimana tersenyum, bertingkah santun, berkata baik, dan lain sebagainya. Pun begitu dengan pembahasan muamalah Maliyah, mereka berhak mendapatkan Pendidikan itu sedini mungkin sebelum mereka mampu melakukannya sendiri. Tentu dalam proses pembelajarannya harus disesuaikan dengan umur dan pola pikir mereka.

Sebagai contoh, anak yang berusia 2 tahun bisa kita ajarkan cara muamalah dengan membawanya ke warung kelontong untuk membeli sesuatu, lalu kita berikan dia uang agar uang tadi diberikan kepada si penjual dan penjual memberikan barang yang dibeli tersebut kepada anak kecil. Dalam proses ini jelas pembelinya bukan si anak melainkan orang tua, namun dengan cara tersebut si anak telah mendapatkan pelajaran muamalah maliyah dengan cara simulasi jual beli.

Tentu hal ini butuh kesabaran orang tua untuk selalu memberikan pelajaran dan pengawasan sampai anak tersebut cukup umur dan mampu mengelola harta sesuai syariat. Di mana setiap jenjangnya orang tua akan bertambah konten pelajaran sesuai dengan tingkat interaksi jual beli yang dia sedang atau akan lakukan.

Mengapa harus sedini mungkin?
Karena pada dasarnya setiap tindakan kita harus dilandasi dengan ilmu seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an:
فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan." [QS: Muhammad:19]

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan Rasulullah untuk berilmu dulu baru beristighfar, maka kewajiban seseorang yang akan beramal atau beraktivitas adalah mencaritahu ilmu yang berkaitan dengannya. Dalam hal ini seseorang yang ingin melakukan aktivitas jual beli maka wajib bagi dia untuk mempelajari setiap akad tersebut baik yang bersifat sederhana atau pun yang kompleks sesuai dengan apa yang akan dia hadapi. Bagi anak kecil maka ajarkan akad-akad sederhana, semakin besar tambah pelajarannya sesuai porsinya.

Hanya dengan cara inilah -belajar muamalah- seseorang akan bisa menjauhi harta haram Seperti yang dikatakan oleh Ali Radhiyallaahu ‘Anhu:
مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ
“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

Mari berilmu sebelum bertransaksi.

Wallaahul Musta’aan.

M. Ibrahim Saleh